Kader Dakwah - Hari ini aku tertohok oleh
siswaku. Saat itu jam kedua, Aku kembali bertugas menggantikan guru yang
sedang mengawas UN di sekolah lain. Karena pelajaran kosong, Aku
meminta siswaku untuk membaca buku literasi di perpustakaan. Daripada
mereka diminta untuk membaca buku di kelas, siswaku pasti akan meminta
untuk segera pulang. Maka, aku meminta siswaku untuk membaca di
perpustkaan karena buku yang ada di sana tentu lebih beragam sehingga
siswa bisa memilih buku yang akan dibacanya dan mereka akan betah hingga
jam pulang tiba.
Siswaku pun sangat senang dengan kegiatan ini,
mereka berlarian ke perpustaknaan tak sabar rasanya. Setelah sampai di
perpustakaan, masing-masing anak memilih buku yang akan mereka baca.
Namun, ada yang menarik di sini, pengalaman yang mungkin tak bisa
kulupakan. Ini tentang kesopanan.
Sebelumnya aku ceritakan dulu
tentang kondisi perpustakanan sekolah kami yang belum rapi, karena masih
banyaknya tumpukan alat peraga dan buku-buku yang belum di data.
Terdapat beberapa rak buku, dan 1 lemari peralatan olahraga serta
beberapa baris meja panjang yang terbuat dari papan. Meja tempat duduk
siswa ini sebenarnya tak layak disebut meja, lebih mirip bangku panjang,
yang biasa kita temui di halte bis. Sehingga tanpa sadar, beberapa
siswa sering duduk di atas “meja” ini. Melihat temannya ada yang duduk
di meja, siswaku pun mengingatkan temannya dan melaporkan- nya padaku.
“Bu, Biak (red. Anak) duduk di meja”, lapor temannnya.
“Ayo duduknya di bawah Nong (red. Nak), itu meja”. Gak boleh duduk di meja. Begitu ku kataku pada siswaku.
Siswa yang duduk di “meja” tersebut pun turun, dan duduk di lantai beralaskan karpet yang sudah pudar warnanya.
Tak
lama berselang, setelah pegal berjalan melihat-lihat siswa yang asyik
membaca buku dan menjawab beberapa pertanyaan mereka, tanpa sadar saya
duduk di atas “Meja” itu. Tak lama kemudian, siswaku yang tadi kutegur
menegurku kembali,
“Bu, itukan meja, tadi kata ibu gak boleh duduk di meja”
Ups, tertohok rasanya. “langsung ku minta maaf pada mereka”
“O iya, maaf Nong Bu guru lupa. Dan gak sadar”.
Sepenggal cerita tadi mungkin pernah dialami oleh orang tua atau guru yang lain. Inilah
mungkin yang bisa dikatakan sebagai teladan yang harus diberikan kepada
anak harus sesuai dengan perbuatan. Bagaimana hal yang kita katakan
harus sesuai dengan yang kita lakukan.
Maka itu akan menjadi
pelajaran yang sangat berharga bagi anak didik kita. Karena sebetulnya
mereka lebih melihat perbuatan kita selaku orang tua atau guru dari pada
mendengar apa yang kita ucapkan.
Benar memang kata pepatah, kekuatan perbuatan akan mengalahkan kekuatan kata-kata.
Semoga
dari cerita ini kita sebagai orang tua maupun guru bisa merefleksi
diri, bahwa sesungguhnya anak-anak kita butuh teladan yang baik, yang
sesuai dengan nasehat yang sering kita perdengarkan pada mereka, bukan
hanya sekedar perkataan belaka.
