Sanad
dan Matan
عَنْ أَبِي رُقَيَّةَ تَمِيْم الدَّارِي رَضِيَ
اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : الدِّيْنُ
النَّصِيْحَةُ . قُلْنَا لِمَنْ ؟ قَالَ : لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُوْلِهِ
وَلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ .
رواه البخاري ومسلم
Terjemah
Abu
Ruqayyah Tamim bin Aus ad-Dary ra. berkata, Nabi saw. bersabda: “Agama itu
nasehat.” Kami bertanya: “Untuk siapa?” Beliau bersabda: “Untukk Allah,
Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin dan kaum muslimin.” (HR Muslim)
Urgensi Hadist
Hadist
ini merupakan ucapan yang singkat dan padat, yang hanya dimiliki oleh Nabi saw.
Ucapan yang singkat namun mengandung berbagai nilai dan manfaat penting. Hingga
tampak semua hukum syara’, baik ushul maupun furu’ terdapat padanya. Bahkan
satu kalimat saja, “wa likitabiHi” sudah mencakup semuanya. Karena kitab Allah
mencakup seluruh permasalahan agama, baik ushul maupun furu’, perbuatan maupun
keyakinan. Allah swt. berfirman: “Tidak Aku tinggalkan sedikitpun dalam kitab
ini.” (al-An’am: 38) karenanya ada ulama yang berpendapat bahwa hadits
ini merupakan siklus ajaran Islam.
Fiqhul
Hadits (Kandungan Hadits)
1.
Ketulusan
kepada Allah
Hal
ini terimplementasi dalam bentuk iman kepada Allah swt. tidak menyekutukan-Nya,
tidak mengingkari sifat-sifat-Nya, meyakini bahwa segala kesempurnaan hanyalah
milik Allah, mensucikan-Nya dari semua kekurangan, ikhlash dalam beribadah
kepada-Nya, senantiasa taat, tidak berbuat maksiat, mencintai karena-Nya,
membenci karena-Nya, loyal kepada orang-orang yang taat kepada-Nya, dan tidak
loyal kepada orang-oran gyang berbuat maksiat kepada-Nya. komitmen terhadap
masalah ini, dalam setiap ucapan maupun perbuatannya, akan mendatangkan
kebaikan bagi seorang muslim, di dunia dan di akhirat.
2.
Ketulusan
kepada Al-Qur’an
Hal
ini terimplementasi dalam bentuk iman kepada kitab-kitab samawi yang diturunkan
Allah swt. dan meyakini bahwa al-Qur’an merupakan penutup dari semua
kitab-kitab tersebut. Ia adalah kalam Allah yang penuh dengan mukjizat, yang
senantiasa terpelihara, baik dalam hati maupun dalam bentuk tulisan. Allah
sendirilah yang menjamin hal itu. Allah berfirman yang artinya: “Sesungguhnya
Kami yang menurunkan al-Qur’an dan Kami sendiri yang akan menjaganya.”
(al-Hijr: 9)
Lebih
rincinya, ketulusan kepada al-Qur’an dilakukan melalui beberapa hal berikut:
a.
Membaca
dan menghafal al-Qur’an
Dengan
membaca al-Qur’an akan didapatkan berbagai ilmu dan pengetahuan. Di samping
itu, akan melahirkan kebersihan jiwa, kejernihan perasaan dan mempertebal
ketakwaan. Membaca al-Qur’an merupakan kebaikan dan merupakan syafaat yang akan
diberikan pada hari kiamat kelak.
Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda:
“Bacalah
al-Qur’an, karena pada hari kiamat, al-Qur’an akan datang untuk memberi syafaat
kepada orang yang membacanya.”
Sedangkan
menghafal al-Qur’an merupakan keutamaan yang sangat besar. Melalui hafalan hati
akan lebih hidup dengan cahaya kitabullah, manusia juga akan segan dan
menghormatinya. Bahkan dengan hafalan itu derajatnya di akhirat akan semakin
tingi, sesuai dengan banyaknya hafalan yang dimiliki.
Diriwayatkan
bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Dikatakan kepada orang yang menghafal
al-Qur’an: bacalah dan naiklah, bacalah dengan tartil sebagaimana engkau
membacanya di dunia dengan tartil. Karena kedudukanmu [di surga] sesuai dengan
ayat terakhir yang engkau baca.” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi)
b.
Membaca
dengan tartil dan suara yang bagus, sehingga bacaannya dapat masuk dan
diresapi. Rasulullah saw. bersabda: “Bukan golongan kami orang yang tidak
membaca al-Qur’an dengan irama.” (HR Muslim)
c.
Mentaddaburi
nilai-nilai yang terkandung dalam setiap ayat. Allah swt. berfirman: “Apakah
mereka tidak mentaddaburi al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci.” (Muhammad:
24)
d.
Mengajarkannya
kepada generasi muslim, agar mereka ikut berperan dalam menjaga al-Qur’an.
Mempelajari dan mengajarkan al-Qur’an adalah kunci kebahagiaan dan izzah umat
Islam. Rasulullah saw. bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang
memperlajari dan mengajarkan al-Qur’an.” (HR Bukhari)
e.
Memahami
dan mengamalkannya. Tidaklah baik membaca al-Qur’an namun tidak berusaha
memahaminya. Tidaklah baik memahami al-Qur’an namun tidak mengamalkannya.
Bagaimanapun, buah dari membaca al-Qur’an baru akan kita peroleh setelah
memahami dan mengamalkannya. Karenanya alangkah buruknya, jika kita memahami
namun kita tidak mau mengamalkannya. Allah swt. berfirman: “Hai orang-orang yang beriman,
kenapa kalian mengatakan yang tidak kalian lakukan. Dosa besar di sisi Allah
jika kalian mengatakan tapi tidak mau menjalankan.” (ash-Shaff: 2-3)
3.
Ketulusan
kepada Rasulullah saw.
Hal ini terimplementasi dalam bentuk
membenarkan risalahnya, membenarkan semua yang disampaikan, baik dalam
al-Qur’an maupun sunnah, mencintai dan menaatinya. Mencintai Rasul secara
otomatis mencintai Allah. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah:
“Katakanlah [wahai Muhammad], ‘Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku
[Muhammad] niscaya kalian dicintai Allah.” (Ali ‘Imraan: 31).
Ketaatan kepada Rasulullah saw. secara
otomatis menaati Allah, “Barangsiapa yang taat kepada Rasul, maka ia
telah menaati Allah.” (an-Nisaa’: 80)
Ketulusan kepada Rasulullah sepeninggalan
beliau, dilakukan dengan cara mempelajari sirah, mencontoh akhlak dan adabnya,
komitmen dengan sunnahnya, senantiasa mengambil manfaat dan pelajaran dari
kehidupannya, ikut andil dalam penyebaran sunnah [hadits] di tengah-tengah
masyarakat, dan itu serta membantah berbagai tuduhan bohong yang dilemparkan
para musuh dan penentang Rasulullah saw.
4.
Ketulusan
para pemimpin
Pemimpin orang-orang muslim adalah para
penguasa, wakil-wakilnya atau para ulama. Agar penguasa ditaati, maka penguasa
tersebut harus dari orang Islam sendiri. Allah berfirman, “Taatlah kepada Allah, taatlah
kepada rasul dan penguasa dari kalian.” (an-Nisaa’: 59).
Ketulusan kepada para pemimpin adalah dengan
menyukai kebaikan, kebenaran dan keadilannya, bukan lantaran individunya. Juga
karena melalui kepemimpinannya, kemashlahatan kita bisa terpenuhi. Kita juga
senang dengan persatuan umat dibawah kepemimpinan mereka yang adil, dan
membenci perpecahan umat di bawah penguasa yang semena-mena.
Ketulusan kepada para pemimpin, juga
dilakukan dengan cara membantu mereka untuk senantiasa berada dalam rel
kebenaran, menaati mereka dalam kebenaran, mengingatkan mereka dengan cara yang
baik. Karena tidak ada kebaikan, masyarakat yang tidak mau menasehati
penguasanya, dan masyarakat yang tidak mau mengatakan kepada penguasanya yang
dhalim “anda dhalim”.
Juga tidak ada kebaikan, penguasa yang
menindas rakyatnya dan membungkam orang-orang yang berusaha menasehatinya,
menutup telinganya rapat-rapat agar tidak mendengar suara-suara kebenaran.
Dalam kondisi seperti ini, yang terjadi justru kerendahan dan kehancuran. Ini
sangat mungkin terjadi jika masyarakat muslim telah menyeleweng dan jauh dari
nilai-nilai Islam.
Adapun para ulama, ketulusan kepada kitab
Allah dan sunnah Rasul, dilakukan dengan cara meng-counter berbagai pendapat
sesat yang berkenaan dengan al-Qur’an dan sunnah. Menjelaskan berbagai hadits,
apakah hadits tersebut shahih atau dla’if.
Mereka juga mempunyai tanggung jawab yang
besar untuk selalu menasehati para penguasa, senantiasa menyerukan agar mereka
berhukum dengan hukum Allah dan Rasul-Nya. Jika mereka lalai dalam mengemban
tanggung jawab ini, hingga tidak ada satupun orang yang menyuarakan kebenaran
di depan penguasa, maka kelak Allah akan menghisabnya. Rasulullah saw bersabda:
“Sesungguhnya
jihad yang paling mulia adalah mengatakan kebenaran di depan penguasa yang
semena-mena.” Mereka juga akan dimintai pertanggungjawaban jika mereka
justru memuji penguasa yang semena-mena, bahkan kemudian menjadi corong mereka.
Sedangkan ketulusan kita kepada para ulama,
adalah dengan senantiasa mengingatkan mereka akan tanggung jawab tersebut,
mempercayai hadits-hadits yang disampaikan jika memang mereka orang bisa
dipercaya. Juga dengan jalan tidak mencerca mereka, karena hal tersebut dapat
mengurangi kewibawaannya dan menjadikan mereka bahan tuduhan.
5.
Ketulusan
kepada kaum Muslimin
Ketulusan kepada kaum muslimin bisa dilakukan
dengan cara menuntun mereka kepada berbagai hal yang membawa kebaikan dunia dan
akhiratnya. Sangat disayangkan bahwa kaum muslim telah mengabaikan tugas ini.
Mereka tidak mau menasehati muslim yang lain. Khususnya yang berkaitan dengan urusan
akhirat.
Nasehat yang dilakukan , seharusnya tidak
terbatas dengan ucapan, tetapi harus diikuti dengna amalan. Dengan demikian
nasehat tersebut akan terlihat nyata dalam masyarakat muslim, sebagai penutup
keburukan, pelengkap kekurangan, pencegah terhadap bahaya, pengambilan manfaat,
amar ma’ruf nahi munkar, penghormatan terhadap yang besar, kasih sayang
terhadap yang lebih kecil, dan menghindari penipuan dan kedengkian. Meskipun
harus bertaruh jiwa dan harta.
6.
Nasehat
yang paling baik
Yaitu nasehat yang diberikan ketika seseorang
dimintai nasehat. Rasulullah bersabda: “Jika seseorang minta dinasehati maka
nasehatilah ia.” Termasuk ketulusan yang paling baik adalah yang dilakukan saat
orang itu tidak ada di hadapannya. Ini dengan cara menolong dan membelanya. Ini
bukti ketulusan yang sungguh-sungguh. Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya
termasuk hak seorang muslim terhadap muslim yang lain adalah tetap tulus
meskipun tidak ada di hadapannya.”
7.
Pendapat
ulama seputar nasehat
Hasan al-Bahsry berkata: “Sesungguhnya engkau
belum terhitung menasehati saudaramu, sebelum engkau menasehatinya untuk
melakukan sesuatu yang tidak ia mampu melakukannya. ”Ia juga menyebutkan bahwa
beberapa shahabat pernah berkata: “Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya,
orang yang paling dicintai Allah, adalah orang yang menyebabkan Allah mencintai
hamba-Nya, menyebabkan cinta kepada Allah dan melakukan nasehat.”
Abu Bakar al-Mazni berkata: “Yang menjadikan
Abu Bakar lebih tinggi derajatnya dari pada shahabat-shahabat lainnya bukanlah
puasa ataupun shalat. Akan tetapi karena sesuatu yang ada di dalam hatinya.
Yang ada di hatinya adalah kecintaan kepada Allah dan nasehat terhadap
makhluk-Nya. Fudhail bin Iyadh berkata: “Kemuliaan yang diperoleh oleh generasi
kami, bukanlah karena shalat dan puasa. Namun karena kemurahan hati, lapang
dada dan suka memberi nasehat.
8.
Adab-adab
nasehat
Di antara adab nasehat dalam Islam adalah
menasehati saudaranya dengan tidak diketahui orang lain. Karena barangsiapa
yang menutupi keburukan saudaranya, maka Allah akan menutupi keburukannya di
dunia dan di akhirat. Sebagian ulama berkata: “Barangsiapa yang menasehati
seseorang dan hanya ada mereka bedua, maka itulah nasehat yang sebenarnya.
Barangsiapa yang menasehati saudaranya di depan banyak orang, maka yang
demikian itu mencela dan merendahkan orang yang dinasehati.”
Fidhail bin Iyadh berkata: “Seorang mukmin
adalah orang yang menutupi aib dan menasehatinya. Sedangkan orang fasik adalah
orang yang merusak dan mencela.”
9.
Beberapa
ibrah yang disinyalir oleh Ibnu Bathal:
a.
Nasehat
adalah islam itu sendiri. Sementara Islam dilakukan melalui ucapan dan
perbuatan.
b.
Nasehat
merupakan fardlu kifayah
c. Orang yang measa yakin bahwa orang yang akan
dinasehati, akan menerima dan tidak akan bereaksi negatif, maka dalam konsisi
seperti ini, wajib baginya untuk memberikan nasehat. Namun jika sebaliknya,
justru orang yang dinasehatai akan bereaksi sehingga membahayakan jiwa, maka
dalam kondisi ini ia bisa memlikih, menasehati atau tidak.